5.12.07

Al Ilmu First!

ILMU SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar 9)
Kita semua sepakat bahwa sebuah gedung yang tinggi pasti memerlukan banyak ahli ilmu teknik bangunan yang mereka benar-benar ahli alias berilmu dalam bidangnya dan berpengalaman agar gedung itu berdiri dengan kuat, kokoh dan awet. Juga seseorang yang mengobati penyakit haruslah berpendidikan kesehatan (dokter). Namun ketika orang-orang ditanya bagaimanakah membangun umat Islam ini? Maka mayoritas orang tidak terlalu memikirkan bagaimana kapasitas da’i pembangun umat ini apakah mereka berilmu tentang dien /agamanya yang akan dida’wakan atau tidak? Dan ini adalah musibah... Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal, firman Allah:
Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Illah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha & tempat tinggalmu. (QS Muhammad 19)
--Imam Bukhari membicarakan masalah ini dalam kitab Shahih-nya pada bab khusus, yakni bab “Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal”--

Sehubungan dengan ini Allah memerintahkan Nabi-Nya dengan dua hal, yaitu berilmu lalu beramal, atau berilmu sebelum beramal. Hal ini dapat kita lihat dari susunan ayat di atas, yaitu: 'Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada illah melainkan Allah' Ayat ini menunjukkan perintah untuk berilmu. Selanjutnya perintah ini diikuti perintah beramal, yaitu: '…Dan mohonlah ampunan bagi dosamu…' Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa urutan ilmu mendahului urutan amal. Ilmu merupakan syarat keabsahan perkataan dan perbuatan. Shahihnya amal karena shahihnya ilmu. Disamping, itu ilmu merupakan tempat tegaknya dalil.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan Rasul shallallahu'alaihi wasallam atau bisa juga ilmu yang bukan dari Rasul shallallahu'alaihi wasallam, yaitu ilmu-ilmu yang di luar masalah diniyah (agama), misalnya beberapa segi ilmu kedokteran, pertanian dan perdagangan.

Seorang da’i tidak dikatakan bijaksana, kecuali bila ia memahami ilmu syar’i. Jika dari awal hingga akhir perjalanan dakwahnya ia tidak melalui jalur ilmu ini, ia akan kehilangan jalan petunjuk dan keberuntungan. Inilah konsensus orang arif. Tidak diragukan lagi bahwa pembenci ilmu adalah penyamun dan pelaku perbuatan iblis dan pengawalnya.

Begitu pula seorang yang tergabung dalam sebuah organisasi Dakwah, jika ia tidak mengetahui ilmu syar’i atau tidak mempelajarinya dengan benar, maka apa yang ingin ia dakwahkan? Jangan-jangan yang ia dakwah-kan selama ini adalah salah.

Karena banyak sekali diantara orang-orang yang tergabung di organisasi dakwah, hanya bermodal semangat yang tinggi saja, atau bermodal pengetahuan Islam yang didapatnya dari membaca koran atau berita di TV atau apa-apa yang dikerjakan oleh nenek moyang mereka, padahal berita-berita itu belum tentu benar dan apa-apa yang dikerjakan nenek moyang kita belum tentu benar menurut apa yang diturunkan Allah dan diajarkan Rasul-Nya.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk” (QS Al-Baqarah 170)
Jika ditanya tentang berita-berita aktual yang melibatkan kaum muslimin atau masalah politik, maka akan dijawabnya dengan lancar dan jelas. Namun jika ditanya tentang aqidah, tauhid dan ilmu syar’i lainnya, ia tidak tahu….atau jika ia malu untuk menjawab tidak tahu, ia menjawabnya dengan pendapatnya atau akalnya semata, tanpa dasar dalil yang jelas, sehingga akan muncul perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah) yang sesat dan menyesatkan.
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama, hingga manakala Dia tidak menyisakan satu orang alimpun (dalam riwayat lain: Hingga manakala tidak tertinggal satu orang alim pun), manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka akan ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan ber-fatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dalam al Ilmu 1/234 dan Muslim dalam al-Ilmu 16/223)
Jika seorang muslim tidak mengerti yang mana yang halal dan mana yang haram, mana yang tauhid dan mana yang syirik, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, maka kemungkinan besar orang ini akan menyimpang dalam beragama.

Yang seperti ini tidaklah benar, hendaknya seorang muslim benar-benar mempelajari terlebih dahulu apa yang ingin diamalkan.

Pada kenyataannya ilmu itu memang teramat penting dan menentukan, oleh karena itu ia mesti men-jadi hal pertama untuk dimengerti.

Mengapa ilmu? Apakah ilmu dan apakah batasannya?

Dikatakan oleh imam Asy-Syathibi bahwa: “Ilmu yang dikehendaki di sini maksudnya ialah agar supaya terjadinya amal-amal perbuatan dalam wujud nyatanya sejalan dengan ilmu tersebut tanpa ada perselisihan, baik amal-amal itu merupakan perbuatan hati, lidah maupun anggota badan

Dengan demikian jika suatu perbuatan biasanya berlangsung sejalan dengan ilmunya tanpa ada perselisihan sedikitpun antara keduanya, berarti dalam kaitan ini ia merupakan ilmu sebenarnya, kalau tidak berarti bukan ilmu karena tiada kesesuaian antara keduanya (teori dengan kenyataan -pen). Berarti hal ini bathil, sebab kebalikan ilmu adalah jahil (bodoh)”

Syaikh Abil Izzi Al Hanafi menyatakan bahwa: “Ilmu yang paling mulia adalah ilmu ushuluddin (pokok-pokok dien), karena tolok ukur mulianya sebuah ilmu tergantung pada kemulian yang mesti diilmui. Kebutuhan manusia kepada ilmu ini diatas kebutuhan penting lainnya, karena tiada hakekat hidup bagi hati dan tiada kenikmatan serta ketenteraman kecuali apabila ia mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, lengkap dengan Asma’, Shifat serta perbuatan-perbuatan (Rubbubiyah)-nya. Akan tetapi adalah mustahil jika akal (fitrah) semata-mata dapat memahami rincian semua persoalan ushuluddin di atas. Oleh karenanya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kasih Sayang dengan segala hkmah serta kebijaksanaan-Nya mengutus para utusan-Nya supaya mengenalkan Allah pada umatnya dan mendakwahi mereka supaya mengabdi kepada-Nya. Allah menjadikan kunci serta intisari dakwah yang dilakukan oleh para Rasul itu ialah: Ma’rifat (mengenal) terhadap Allah lengkap dengan hak Ilahiyah, Asma’, Shifat serta perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tuntutan risalah para nabi semenjak nabi pertama hingga nabi terakhir.”

Pada sisi lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Risalah Nabi meliputi dua hal yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih", sebagaimana terdapat dalam firman Allah:
Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) al Huda/ petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS At Taubah 33)
Al Huda pada ayat di atas ialah: ilmu yang bermanfaat sedangkan Dienul Haq ialah amal shalih yang terdiri dari ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (ittiba’) kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dengan ilmu inilah bakal tegak dienullah baik secara perkataan, perbuatan maupun keyakinan.

Cara mendapatkan ilmu
  1. Berdo’a kepada Allah “…Dan katakanlah,’Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS Thaha 114)
  2. Bersungguh-sungguh dan berkeingi-nan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah. Imam Syafi’i mengatakan. “Kamu tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan enam hal: kecerdasan, gemar belajar, sungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru dan perlu waktu lama
  3. Menjauhi segala maksiat dengan bertakwa kepada Allah. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan/ pembeda…” (QS Al Anfal 29)
  4. Tidak sombong dan tidak malu dalam mencari ilmu.
    Aisyah pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum Anshar, karena mereka tidak malu bertanya tentang agama.”
  5. Ikhlas dalam mencari ilmu. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
    Barang siapa belajar suatu ilmu yang terkait dengan maksud karena Allah, tetapi dipelajari untuk tujuan keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
  6. Mengamalkan ilmu. Mungkin kita lupa sabda nabi tentang keutamaan ilmu Islam yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hadist dari Mu’awiyah yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah membuatnya memahami agama.”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah akan diberi ilmu, sehingga ia akan mampu membedakan yang hak dan yang bathil.

Berdasarkan penjelasan di atas maka mestinya setiap hamba Allah mengkaji ulang kembali adakah ilmu yang diyakini itu sudah benar, atau mungkin ilmunya itu sekedar angan-angan kosong belaka?

Sungguh aneh dan ironis jika seorang berniat akan beribadah terus selama hidupnya kepada Allah, tapi ia tidak mau tahu cara ibadah yang benar yang diajarkan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Oleh karena itu marilah kita bersama-sama untuk mengkaji apa-apa yang dibutuhkan sebagai hamba Allah agar kita tidak menyesal nantinya. Ingat umur kita yang hanya hidup sebentar di dunia dan kekal di akherat.

Wallahu A’lam
www.Salafyoon.cjb.net


  • Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju syurga” (HR Muslim)
  • “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah membuatnya faqih (faham) agama” (Muttafaqun ‘alaih)

19.1.07

Tauhid First!

MAKNA SYAHADAT

Laailahaillallah

Kalimat Laailahaillallah mempunyai kedudukan yang agung. Ia memiliki aturan, syarat-syarat, makna khusus & konsekuensi. Barang siapa yang mengucapkan dengan jujur maka Allah akan memasukannya dalam surga & barang siapa yang mengucapkannya dengan dusta maka darah & hartanya masih terjaga di dunia akan tetapi kelak di akhirat hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.
Maka sesungguhnya Allah mengharamkan atasnya neraka bagi orang yang mengucapkan Laailahaillallah karena mengharapkan wajah Allah” (HR Bukhari & Muslim)
Kalimat ini pendek lafadznya, sedikit hurufnya & ringan diucapkan, namun memiliki bobot yang sangat berat di dalam timbangan keadilan. Ibnu Hibban & Al Hakim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Musa pernah berkata wahai Tuhanku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku pakai untuk ingat kepada-Mu & do’a kepada-Mu, Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah ‘Laailahaillallah’, Musa berkata: Semua hamba-Mu mengucapkan hal ini. Allah berfirman: Wahai Musa seandainya tujuh langit & penghuninya selain Aku & tujuh bumi ini di salah satu timbangan & Laailahaillallah diletakkan di daun timbangan lainnya, niscaya Laailahaillallah akan lebih berat dari itu semua” (HR Hakim & Ibnu Hibban dalam Maurid Adh Dhom’an)
Hadist ini menunjukkan Laailahaillallah merupakan dzikir yang paling utama. Sebagaimana yang ditegaskan oleh hadist dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Sebaik-baik do’a adlah do’a di hari ‘arafah & sebaik-baik do’a yang aku ucapkan demikian pula para nabi sebelumku adalah do’a Laailahaillallah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kuli syai-in qadiir (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Yang Esa tidak ada sekutu baginya, milik-Nya segala kekuasaan & pujian & Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)” (HR Ahmad & Tirmidzi dalam Ad Da’awat No. 3579)
Diantara dalil yang juga menunjukkan Laailahaillallah memiliki bobot yang sangat berat di dalam timbangan keadilan adalah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, ia menghasankannya An Nasa’I & Al Haakim, ia berkata hadist ini shahih atas syarat Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Akan dipanggil seorang dari umatku di atas para pemuka makhluk pada hari kiamat kemudian dibentangkan baginya 99 sijjil (catatn amal) masing-masing sijjil sepanjang pan&gan mata. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apa kamu mengingkari hal ini?’ Ia menjawab: ‘Tidak wahai tuhanku’. Ia ditanya apa kamu punya alasan lain atau kebajikan?’ Dengan rasa takut ia menjawab: ‘Tidak punya.’ Lalu ia diberi tahu: ‘Sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebajikan di sisi Kami & kamu tidak akan didzalimi sedikitpun kemudian dikeluarkan baginya sebuah bithaqah (kartu ucapan amal) yang di dalamnya tertulis -Asyhadu anlaailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah-‘ Maka ia berkata: ‘Wahai tuhanku apa maksud dari bithaqah & sijjil ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun’. Lalu sijjil-sijjil itu diletakkan di salah satu daun timbangan & bithaqah di daun timbangan lainnya, tiba-tiba sijjil itu menjadi ringan se&gkan bithaqah malah tambah berat.” (HR Tirmidzi No. 2641 dalam Al Imaan, Al hakim (1/5-6) & selain keduanya)
Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:
  1. Annafyu artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala
  2. Al Itsbaat artinya menetapkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala saja.
Kalimat Laailahaillallah tidak bermanfaat bagi orang-orang yang mengucapkannya kecuali dengan memenuhi 7 (tujuh) persyaratan, yaitu:
  1. Al Ilmu artinya mengetahui maknanya.
  2. Al Yakin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat itu tanpa ragu & bimbang sedikitpun.
  3. Al Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun.
  4. Ash Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan.
  5. Al Mahabbah artinya mencintai kalimat ini & segala konsekuensinya serta merasa gembira dengan hal itu.
  6. Al Inqiyaad artinya tunduk & patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini dengan cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas & mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya.
  7. Al Qabuul artinya apa adanya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah & meninggalkan larangan Allah.
Al Imam Ibnu Rajab berkata: “Dari sini jelaskah bahwa ucapan-ucapan hamba Laailahaillallah merupakan pengakuan ia tidak memiliki sesembahan selain Allah. Sedangkan makna Al Ilaahu adalah zat yang dita’ati & tidak dimaksiati disertai rasa takut, memuliakan, mencintai, mengharap, tawakkal, meminta & berdo’a kepada-Nya. Ini semuanya tidak pantas diberikan kecuali hanya untuk Allah. Walhasil, bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid Laailahaillallah harus mengetahui maknanya & mengamalkan konsukuensinya secara lahir & bathin”.

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa makna ‘Laailahaillallah’ adalah ‘Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah’. Adapun menafsirkan kalimat Laailahaillallah dengan makna ‘Tidak ada pencipta kecuali Allah’, ‘Tidak ada yang mengatur kecuali Allah’, ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah’ adalah kurang & menyelisihi Quran & Sunnah.

Juga diantara konsekuensi Laailahaillallah adalah menerapkan nama-nama & sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah & Rasul-Nya.



Muhammadarrasulullah

Konsekuensi dari syahadat …Muhammadarrasulullah adalah:

1. Mentaati perintahnya.
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah & Rasul-Nya, & janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (Q8.20)

Katakanlah: Taatlah kepada Allah & taatlah kepada Rasul, & jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. & jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. & tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Q24.54)

Setiap umatku akan masuk ke dalam syurga, kecuali yang enggan. Mereka berkata siapakah yang enggan ya Rasulullah? Beliau menjawab: Siapa yang mentaatiku maka ia akan masuk syurga & siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang enggan.” (HR Bukhari)
2. Membenarkan apa yang di kabarkannya.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. & apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, & bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Q59.7)

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tak ada yang berhak disembah kecuali Allah & sampai mereka percaya kepadaku & apa yang aku bawa” (HR Muslim)
Allah mengancam dengan neraka Sa’iir bagi mereka yang tidak percaya terhadap apa yang dikabarkannya,
“& barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah & Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.” (Q48.13)
Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Aku tidaklah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rasul kecuali akan aku kerjakan & aku takut jika meninggalkan satu saja & perintah Rasul maka kebinasaan akan menimpaku”.

3. Meninggalkan apa yang dilarangnya tanpa ada sifat ragu.

Ada yang mengatakan: “O... hukum ini tidak ada dalam Al-quran” sebagaimana yang dilakukan oleh Inkaarus Sunnah.

Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah menafsirkan & menjelaskan Al Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:
“& Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan” (Q16.44)
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Ketahuilah bahwa aku diberikan Al Quran & sepertinya bersamanya (yaitu Assunah)”.
Salah satu contoh pentingnya As-Sunnah untuk memahami Al Quran:
Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya & (siapa pulakah yang rnengharamkan) rezeki yang baik. Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q7.32)
4. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyariatkan.

Allah telah menyempumakan agamanya, wahyu telah terputus & kenabian telah ditutup sebagaimana firman Allah:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku & telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu“ (QS A1-Maidah 3)
5. Syahadat ini juga memiliki konsekuensi yaitu tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiiki sifat rububiyyah yang punya pengaruh di alam semesta & tidak berhak disembah.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah seorang hamba, seorang Rasul yang tidak didustakan & seorang hamba yang tidak mampu mendatangkan mamfaat atau menolak mudharat bagi dirinya atau orang lain kecuali atas izin & kehendak Allah.
Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, & tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib & tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (Q6.50)
Hendaknya kita menempatkan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada kedudukan & martabat yang telah Allah berikan kepadanya yaitu sebagai hamba & utusan.

Semoga salawat & salam tetap tercurah kepad Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan kita semua para pengikutnya sampai akhir zaman...

17.1.07

Ibadah dalam Islam...

Pemahaman seseorang tentang ibadah kadang terbatas pada aktivitas yang bersifat ritual saja seperti shalat, puasa, zakat dsb. Apa makna & syarat diterimanya ibadah? Dan bagaimana suatu pekerjaan atau perbuatan (hal yang halal atau mubah di luar peribadatan) itu bisa bernilai ibadah di sisi Allah ta'ala?

Tujuan penciptaan manusia

Seseorang yang ditugaskan di suatu pos, tentu ia harus mengetahui apa sebenarnya tujuan ia ditempatkan di pos tersebut. Demikian pula dengan manusia, sudah sewajibnya kita tahu apa tujuan Allah ta'ala menciptakan kita...
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepada-Ku" (Q51.56)
Dari ayat di atas, jelaslah bahwa tujuan Allah ta'ala menciptakan manusia dan jin hanyalah untuk mengabdi & menyembah Allah, beribadah kepada Allah-Nya.

Makna Ibadah

Secara bahasa ibadah berarti tunduk dan taat. Sedangkan menurut istilah, ibadah berarti segala perkataan dan perbuatan yang dicintai serta diridhai Allah ta'ala, baik yang bersifat lahir (nampak) maupun bathin (tersembunyi).

Namun ada sebagian orang yang kurang benar dalam memahami arti dari ibadah. Mereka menganggap ibadah hanyalah terbatas pada ibadah ritual yang tercantum dalam rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal sebenarnya ibadah sendiri tidak mempunyai arti sesempit itu. Sebaliknya rukun Islam inilah yang seharusnya menjadi titik tolak bagi seorang muslim dalam merealisasikan ibadah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Muhammad Quthb dalam sebuah bukunya menuliskan: "Perasaan seorang muslim dalam perjalanan mencari rizki, mencari ilmu, mengupayakan kemakmuran bumi dan setiap aktivitas fisik, akal dan jiwanya adalah (bisa bernilai) ibadah. (Nilai) Ibadah yang dilaksanakan dengan keikhlasan yang sama dengan keikhlasan untuk melaksanakan (ibadah) shalat."

Ternyata menuntut ilmu, mendidik & membesarkan anak, bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bisa mempunyai nilai ibadah. Tentunya ada syarat-syarat tertentu, hingga sesuatu yang kita kerjakan dinilai Allah sebagai ibadah.

Syarat diterimanya Ibadah

Tiga syarat yang harus dipenuhi agar ibadah kita diterima Allah ta'ala:
  1. Lillah, yaitu niat yang ikhlash, niat hanya karena Allah ta'ala semata.
  2. Billah, yaitu pelaksanaannya seperti yang diperintahkan Allah dan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (ittiba'). Misalnya, kita mecontoh bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat, puasa, bersillaturrahiim, bertetangga, bertutur kata, memimpin umat dan sebagainya.
  3. Illallaah, yaitu dengan tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Firman Allah: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Q2.207)
Jika salah satu saja syarat di atas tidak terpenuhi dalam melaksanakan peribadatan kepada Allah ta'ala, maka ibadah tersebut tertolak dan tidak bernilai ibadah di sisi Allah ta'ala.

Bekerja & mengerjakan hal yang mubah bisa bernilai Ibadah di sisi Allah ta'ala

Melaksanakan suatu aktivitas kebaikan (hal yang halal atau mubah) di luar peribadatan misalnya bekerja mencari nafkah, maka syarat minimal yang harus terpenuhi agar pekerjaan tersebut dapat bernilai ibadah di sisi Allah ta'ala adalah memenuhi persyaratan ‘lillah’ yaitu NIAT yang ikhlash, niat untuk menafkahi keluarga, niat mencari rezeki yang baik & halal, ...niat untuk mencari keridhaan Allah ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bahwasanya segala amal perbuatan itu tergantung pada niat..." (HR Bukhari & Muslim)
Contoh, seseorang yang pergi bekerja dengan niat hanya untuk mencari dunia semata atau untuk menumpuk harta semata tanpa dibarengi niat yang lebih dari itu, yaitu niat ikhlash atau niat untuk menafkahi anak dan istri dengan rizki yang baik & halal, maka gugurlah nilai ibadah dari usaha kerja tersebut walaupun dia berhasil memperoleh apa yang dia inginkan atau niatkan yaitu uang atau harta.

Makan juga akan bernilai ibadah jika kita niatkan bahwa dengan makan maka kita akan menjadi sehat dan kuat sehingga kita akan selalu siap untuk beraktivitas, berfikir dan beribadah dengan baik.

Maka... Jangan sia-siakan segala bentuk aktifitas kebaikan kita sehari-hari walau hanya menyingkirkan duri dari jalanan, ber-niatlah-lah dengan ikhlash! Maka insya allah semua aktivitas kita bisa bernilai ibadah & pahala di sisi Allah ta'ala. Dan jangan lupa ucapkanlah basmallah atau do'a-do'a yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Taqwa adalah tujuan Ibadah
"Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa" (Q2.21)
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan dari ibadah adalah untuk membentuk insan yang bertakwa. Jika ibadah itu tidak menghasilkan takwa, maka perlu ditinjau kembali kebenaran niat & pelaksanaan ibadah tersebut. Apakah sudah benar ia berniat dengan ikhlash mencari ridha Allah, apakah cara pelaksanaannya sudah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dsb. Hasil dari takwa seorang muslim yang telah mampu mencapai derajat takwa akan diberi Allah beberapa hal, diantaranya:
  1. Furqan, yaitu pembeda antara yang haq dan yang bathil. "Hai orang- orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan ..." (Q8:29). Banyak orang yang kini melihat sesuatu yang bathil itu seperti yang haq dan sebaliknya sesuatu yang haq itu seperti yang bathil hingga terjadi percampuran antara haq & kebathilan. Disinilah urgensi furqaan, yang dengannya kita dapat membedakan dan melihat dengan jelas bahwa sesuatu yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil.
  2. Jalan keluar, rizki dan kemudahan. "...Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya ... Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya" (Q65:2-4). Misalnya sebuah keluarga berada dalam kesulitan ekonomi. Tiba-tiba secara tidak disangka-sangka keluarga tersebut mendapat hadiah yang dapat mereka gunakan untuk meringankan beban ekonomi tersebut. Inilah rizki yang Allah janjikan bagi orang yang bertakwa.
  3. Berkah atau kebaikan yang banyak. "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, ..." (Q7:96). Sepiring makanan yang mempunyai berkah akan dapat mengenyangkan sekeluarga. Sebalik-nya, makanan yang tidak mengandung berkah tidak akan dapat mengenyangkan, walaupun hanya satu orang.
  4. Ampunan & Surga. Dan bersegera-lah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (Q3:133) Selain itu masih banyak lagi hasil dari takwa yang disebutkan dalam Al-Quran. Siapakah yang ingin mendapat anugerah tersebut? Berusahalah menjadi manusia yang bertakwa dengan jalan taat beribadah kepada-Nya.
Dari berbagai sumber.
Wallahu 'alam


Sedikit tentang Bid'ah...
(Harus disampaikan)

Bid'ah adalah hal-hal baru dalam perkara agama (ibadah) atau amalan-amalan yang disandarkan kepada Islam, padahal Islam sama-sekali tidak mengajarkan hal-hal tsb dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau para sahabat Beliaupun tidak mencontohkannya.
Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru (dalam hal ibadah), karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. (Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi; hadits hasan shahih)
Adapun hal-hal yang di luar perkara/amalan ibadah selama tidak ada syari'at yang mengharamkannya adalah boleh-boleh saja atau halal-halal saja. Contohnya orang yang bepergian pakai mobil ataupun pesawat terbang silahkan saja. Jangan mengatakan bahwa, "Mobil adalah bid'ah karena dahulu zaman Rasulullah tidak ada mobil dan Beliau tidak naik mobil tapi naik unta". Pemahaman tersebut adalah keliru.

Dalil lainya…
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR Bukhari & Muslim)

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”. (HR Bukhari & Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (dalam khutbah beliau), ”Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR Muslim)

Al Islam telah sempurna...
(Jangan ditambah-tambah, dimodifikasi dan di... di... lainnya)

Allah ta'ala telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur dan disyari'atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Quran dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya, "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS Al-Maidah: 3)


Catatan saya:
  1. Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk syurga dan tujuh puluh dua golongan masuk (mampir dulu ke) neraka, lalu shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah satu golongan itu?” Beliau menjawab, ”Golongan yang mengikuti jejakku dan jejak shahabatku”” (HR Tirmidzi)
  2. Islam adalah agama untuk seluruh manusia di muka bumi ini dan bukan agamanya orang Jawa atau agamanya orang Indonesia saja. Ada beberapa pertanyaan yang layak kita renungi: Pertama, apakah orang muslim di Indonesia “pasti lebih baik ke-islamannya” dibanding dengan orang muslim di luar Indonesia (Timur Tengah dll)? Kedua, Al Quran diturunkan Allah ta'ala dalam bahasa Arab, begitu juga Hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga dalam bahasa Arab. Apakah "kebanyakan" orang muslim di Indonesia menguasai bahasa Arab dengan baik?
  3. Penafsiran yang salah dari Ulama adalah pewaris Nabi banyak melahirkan distorsi-distorsi dari kemurnian Islam dan melanggengkan praktek-praktek ke-bid'ah-an.
  4. Do'a Qunut Subuh bukanlah bid'ah tetapi akan menjadi bid'ah kalau qunut diwajibkan dalam setiap shalat subuh!
  5. Shalat taraweh berjamaah bukanlah bid'ah seperti perkataan Umar bin Al Khathab tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR Bukhari), karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan taraweh berjamaah dan kemudian beliau meninggalkannya karena dikawatirkan shalat taraweh -shalat malam di bulan Ramadhan- dengan berjamaah tersebut dianggap wajib oleh umatnya seperti pada Hadits Aisyah sbb: "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada suatu malam, lalu shalat di masjid, dan beberapa orang ikut shalat bersamanya. Pagi harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka berkumpullah orang lebih banyak dari mereka, lalu (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) shalat dan orang-orang tersebut shalat bersamanya. Pada keesokan harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka pada malam ke tiga, jama'ah semakin banyak, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dan shalat bersama mereka. Ketika malam ke empat masjid tidak dapat menampung jama'ah (namun Beliau tidak keluar) sehingga Beliau keluar untuk shalat Subuh; ketika selesai shalat Subuh, Beliau menghadap jama'ah, lalu membaca syahadat dan bersabda: Amma ba'du. Aku sudah mengetahui sikap kalian. Akan tetapi, aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak mampu melaksanakannya. Lalu (setelah beberapa waktu) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal, dan perkara tersebut tetap dalam keadaan tidak berjamaah". (HR Al Bukhari & Muslim) http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html
  6. ...

16.1.07

Prinsip Ibadah yang Benar

Sesungguhnya ibadah yang disyari’atkan oleh Allah ta'ala dibangun di atas landasan yang kokoh.

Pertama, Bahwa ibadah itu sifatnya tauqifiyyah (artinya, tidak ada tempat sedikitpun bagi kreasi manusia di dalamnya) hanya Allah semata yang membuatnya.
  • Maka tetaplah engkau & orang yang telah taubat bersamamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu & janganlah kalian melampaui batas” (QS Hud 112)
  • Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari’at dari urusan (agama), maka ikutilah syari’at itu & janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS Al Jatsiyah 18)
  • Firman Allah tentang Nabi-Nya: “…tidak lain aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan …” (QS Qhaaf 9)
  • …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu …” (QS Al Maa’idah 3).

Kedua, Ibadah yang tulus kepada Allah semata haruslah bersih dari noda-noda kesyirikan. Apabila sedikit saja dari kesyirikan bercampur dengan ibadah maka rusaklah ibadah itu.
  • Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya” (QS Al Kahfi 110)
  • …seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS Al An’am 88)
  • Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu & tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka sembahlah Allah saja & jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS Az-Zumar 65-66).

Ketiga, Keharusan untuk menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai teladan & pembimbing dalam ibadah.
  • Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yg baik bagi kalian…” (QS Al Ahzaab: 110)
  • …Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS Al Hasyr: 7)
  • Barangsiapa melakukan suatu amalan yg tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya tertolak” (HR Muslim)
  • Barangsiapa yg membuat sesuatu yg baru dalam agama, yg tidak dicontohkan, maka tertolak amalannya” (Muttafakun ‘Alaihi)
  • Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (Muttafakun ‘Alaihi)
  • Dan masih banyak lagi nash-nash yang lainnya.

Keempat, Bahwa ibadah itu memiliki batas kadar & waktu yang tidak boleh dilampaui.
  • Sesungguhnya shalat kewajiban yang telah ditentukan waktunya” (QS An-Nissa 103)
  • "(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi” (QS Al Baqarah 185)
  • Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia & …, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu” (QS Al Baqarah 185)

Kelima, Keharusan menjadikan ibadah dibangun diatas kecintaan, ketundukan, ketakutan & pengharapan kepada Allah.
  • Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) & mengharapkan rahmat-Nya & takut akan azab-Nya” (QS Al Israa 57)
  • Firman Allah tentang Nabi-Nya: “…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik & mereka berdo’a kapada Kami dengan rasa harap & cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu” (QS Al Anbiya 90)
  • Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku(Rasul), niscaya Allah mencintai & mengampuni dosa-dosa kalian”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (QS Aali ‘Imran 31-32)

Keenam, Bahwa ibadah tidaklah gugur kewajibannya pada manusia sejak baligh dalam keadaan berakal sampai meninggal dunia.
  • …dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam” (QS Aali ‘Imran 103)
  • Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang ajal kepadamu” (QS Al Hijr 99)

Asy-Syaikh Shalih Bin Fauzaan Al Fauzaan


►►►Ada Dalilnya!

Dalam hal dien (ibadah): Segala bentuk peribadatan pada dasarnya adalah terlarang & tertolak KECUALI ada dalil shahih yang mensyari’atkannya (dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam)

Di luar hal ibadah: Segala sesuatu hal adalah mubah & halal KECUALI ada dalil yang mengharamkannya.



15.1.07

Dirikanlah Shalat!

Sangat pentingnya Shalat & begitu tingginya nilai serta kedudukan amalan Shalat
  • Amalan atau ibadah yang wajib (harus) dilaksanakan dalam segala situasi dan keadaan;
  • Amalan yang pertama dihisab Allah ta'ala;
  • Perintah shalat tidak diturunkan melalui perantara Jibril (wahyu) tapi langsung dari Allah kepada Rasul-Nya;
  • Shalat adalah wasiat terakhir rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sebelum Beliau wafat;
  • Pembeda antara orang muslim dengan kekafiran;
    Dari Jabir r.a., dia bercerita, ”Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ”Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah perbuatan meninggalkan shalat"" (HR Muslim)
  • Nilai shalat 2 rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya;
    "Dua raka'at shalat fajr (sebelum subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." (HR Muslim)
  • ...
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thaahaa: 14)


SHALAT KHUSYU'

Di dalam surat Al-Mu'minun disebutkan beberapa ciri orang beriman. Salah satunya adalah apabila shalat, maka shalatnya itu khusyu'. Kutipannya sebagai berikut:
Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu'. (QS Al-Mu'minun: 1-2)
Apabila kita buka kitab tasfir untuk mengetahui apa latar belakang turunnya ayat ini, kita dapati bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan beberapa shahabat sebelumnya pernah melakukan gerakan tertentu di dalam shalatnya, lalu diarahkan agar tidak lagi melakukannya. Bentuk arahannya adalah menerapkan shalat yang khusyu'.
Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa dahulu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bila shalat mengarahkan pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat: yaitu orang yang di dalam shalatnya khusyu'. Maka beliau menundukkan pandangannya. (HR Al-Hakim)
Ibnu Maradawaih meriwayatkan bahwa sebelumnya beliau shallallahu'alaihi wasallam menoleh saat shalat. Saad bin Manshur dari Abi Sirin meriwayatkan secara mursal bahwa beliau shallallahu'alaihi wasallam sebelumnya shalat dengan memejamkan mata, lalu turunlah ayat ini. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan mursal bahwa para shahabat dahulu pernah shalat dengan memandang ke langit lalu turunlah ayat ini.

Lihat tafsir Al-Baidhawi halaman 451 dan tasfir Al-Munir oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 18 halaman 10.

Khusyu' bukan keluar dari dunia nyata!

Dari tafsir tentang ayat khusyu' di atas jelaslah bahwa taujih (arahan) rabbani dari Allah ta'ala tentang shalat khusyu' bukan lantaran nabi shallallahu'alaihi wasallam tidak melakukan kontemplasi dalam shalat, melainkan karena beliau dan para shahabat melakukan gerakan-gerakan yang dianggap tidak layak untuk dilakukan di dalam shalat. Seperti memandang ke langit, memejamkan mata atau menoleh ke kanan dan ke kiri.

Adapun masalah kontemplasi dan keterputusan hubungan saat shalat dengan dunia nyata, bukanlah hal yang dimaksud dengan khusyu' itu sendiri.

Dan ibarat seorang pengemudi di jalan raya, dikatakan khusyu' kalau dia konsentrasi dalam berkendaraan. Konsentrasi yang dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutupatautelinganya disumbat sehingga tidak melihat atau mendengar apapun, agar konsentrasi.

Malah bila dia melakukan hal-hal di atas, besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Sebab apa yang dilakukannya bukan konsentrasi, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Maka seorang yang shalat dengan khusyu' bukanlah orang yang shalat dengan menutup mata, menutup telinga dan menutup diri dari keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yang shalatnya khusyu' itu adalah orang yang sangat peduli dan sadar atas apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yang ada saat itu.

Siapa sih orang yang paling khusyu' shalatnya di dunia ini? Pasti kita sepakat menjawab bahwa nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam adalah orang yang paling khusyu' dalam shalat. Maka definisi dan standarisasi khusyu' yang benar hanyalah semata-mata yang paling sesuai dengan shalat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Kita tidak dibenarkan untuk membuat definisi dan standar shalat khusyu' sendiri menurut logika serta khayal kita. Sebab nanti akan muncul ribuan bahkan jutaan definisi shalat khusyu' yang sangat beragam, bahkan satu dengan lainnya saling bertolak-belakang.

Padahal satu-satunya rujukan dalam masalah shalat hanyalah apa yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Bahkan Beliau tegaskan lagi dengan sabdanya,
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!" (HR Bukhari)
Maka gambaran shalat khusyu' itu perlu kita pahami secara lebih luas, tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang selama ini umumnya dipahami orang. Sebab kenyataannya begitu banyak fakta yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat dengan berbagai keadaan, diantaranya:
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah shalat sambil menggendong bayi; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memperlama sujudnya, karena ada cucunya yang naik ke atas punggungnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran beliau mendengar ada anak kecil menangis; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memerintahkan orang yang shalat untuk mencegah seseorang lewat di depannya, bahkan menghalanginya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memerintahkan orang yang shalat untuk membunuh ular serta hewan liar lainnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam saat menjadi imam pernah lupa gerakan shalat tertentu, bahkan salah menetapkan jumlah bilangan rakaat, sehingga beliau melakukan sujud sahwi; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan; Rasululah shallallahu'alaihi wasallam mengajarkan shalat khauf dengan berjamaah yang gerakannya sangat unik dan jauh dari kesan khusyu'; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas kendaraan (hewan tunggangan/ unta) yang berjalan, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, beliau membiarkan tunggangannya menghadap kemana pun; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memindahkan tubuh atau kaki isterinya saat sedang shalat karena dianggap menghalangi tempat shalatnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengajarkan orang yang shalat untuk menjawab salam dengan isyarat.
Dengan semua fakta di atas, masihkah kita akan mengatakan bahwa shalat khusyu' itu harus selalu berupa kontemplasi ritual tertentu? Haruskah shalat khusyu' itu membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata menuju alam ghaib tertentu, lalu bertemu Allah ta'ala seolah pergi menuju sidratil muntaha bermikraj? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang tidak ingat apa-apa di dalam benaknya, kecuali hanya ada wujud Allah saja? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang bersatu kepada Allah ta'ala?

Kalau kita kaitkan dengan realita dan fakta shalat nabi shallallahu'alaihi wasallam sendiri, tentu semua asumsi itu menjadi tidak relevan, sebab nabi yang memang tugasnya mengajarkan kita untuk shalat, ternyata shalatnya tidak seperti yang dibayangkan.

Beliau tidak pernah 'kehilangan ingatan' saat shalat. Beliau shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah memanjangkan shalat saat jadi imam shalat berjamaah, kecuali barangkali hanya pada shalat shubuh, karena fadhilahnya.

Kalaupun diriwayatkan beliau pernah shalat sampai bengkak kakinya, maka itu bukan shalat wajib, melainkan shalat sunnah. Dan panjangnya shalat beliau bukan karena beliau asyik 'meninggalkan alam nyata' lantaran berkontemplasi, namun karena beliau membaca ayat-ayat Al-Quran dengan jumlah lumayan banyak. Tentunya dengan fasih dan tartil, sebagaimana yang Jibril ajarkan.

Bahkan beliau pernah membaca surat Al-Baqarah (286 ayat), surat Ali Imran (200 ayat) dan An-Nisa (176ayat) hanya dalam satu rakaat. Untuk bisa membaca ayat Quran sebanyak itu, tentu seseorang harus ingat dan hafal apa yang dibaca, serta tentunya memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam tiap ayat itu. Kalau yang membacanya sibuk 'berkontemplasi dengan dunia ghaib', maka tidak mungkin bisa membaca ayat sebanyak itu.

Maka shalat khusyu' itu adalah shalat yang mengikuti nabi shallallahu'alaihi wasallam, baik dalam sifat, rukun, aturan, cara, serta semua gerakan dan bacaannya. Bagaimana nabi shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat, maka itulah shalat khusyu'.

Ahmad Sarwat, Lc


Tentang Shalat Khusyu' dari berbagai sumber:
"...dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" Q20.14
  1. Mengingat & mengagungkan Allah ta'ala, Zat Yang Maha Besar yang sedang kita sembah & ibadahi serta menghilangkan & mengecilkan apa-apa yang hadir dalam hati selain Allah ta'ala Yang Maha Besar. Inilah salah satu hikmah disyari'atkannya takbiratul ihram & bacaan takbir Allahu Akbar dalam setiap perpindahan gerak dalam shalat, seolah-olah terus mengingatkan akan keagungan Allah ta'ala yang sedang kita ibadahi.
  2. Keimanan yang sempurna akan negeri akhirat yang haq dengan keabadian surga dan nerakanya bisa mengecilkan hal-hal duniawi yang hadir dalam hati ketika kita shalat.
  3. Sadar dengan menghadirkan hati. Sadar bahwa kita sedang shalat, kita sedang berkomunikasi dengan Sang Khalik, Zat yang telah menciptakan diri-diri kita, Zat Yang Maha Agung, Zat Yang Maha Sempurna.
  4. Tahu & faham arti setiap bacaan yang kita ucapkan di dalam shalat. Dengan mengucapkan "Alhamdulillaahi Rabbil'alamiin..." Kita tahu, sadar dan meyakini dalam hati bahwa "Segala puji hanya milik Allah ta'ala, Rabb semesta alam...".
  5. Menghilangkan hal-hal yang bisa mengurangi ke-khusyu'-an shalat misalnya menahan lapar, menahan buang air kecil dst... 
  6. Khusyu' tidaklah wajib tapi merupakan keutamaan dalam shalat!


TATA CARA WUDHU & SHALAT (dari YouTube)






Baca juga:

Renungan:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak." (HR Bukhari & Muslim)
Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera" (QS al Qalam 42-43)
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada dalam surga, mereka saling bertanya, tentang keadaan orang orang yang berdosa. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar?" Mereka menjawab, ”Kami dahulu tidak termasuk orang orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan" (QS Al Muddatsir 38-46)

Hukum Membaca Al Qur’an & Bacaan Shalat di Dalam Hati (Tanpa Menggerakkan Lisan)?

Libatkan Lisan!
Soal #1
Apakah wajib menggerakkan lisan saat membaca Al Quran dan bacaan-bacaan dalam shalat, ataukah cukup mengucapkannya di dalam hati?
Jawab
Mengucapkan bacaan Al-Qur’an harus dengan menggerakkan lisan. Jika seseorang mengucapkannya dalam hati ketika shalat, maka hal itu tidak sah.

Demikian pula seluruh bacaan shalat, tidak sah jika diucapkan dalam hati. Dia harus menggerakkan lisannya & kedua bibirnya, karena “bacaan” adalah perkataan. Dan perkataan tidak mungkin terwujud kecuali dengan menggerakkan lisan serta kedua bibir.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam “Majmu’ Fatawa” 13/156.

Soal #2
Assalamu’alaykum. Ustadz, saya sering melihat orang-orang di sekitar saya mengerjakan shalat tanpa menggerakkan mulutnya sama sekali kecuali saat takbiratul ihram dan salam. Ketika saya tanya apakah mereka membaca surat al-Fatihah, mereka menjawab, “Ya, dalam hati.” Bolehkah membaca bacaan shalat dalam hati? Jika tidak, bagaimana hukum shalat orang-orang yang hanya membaca bacaan shalat dalam hati? Apa hukum membaca doa shalat dalam hati? (Abdulfattah -Solo)
Jawab
Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan oleh Alloh kepada Rasululloh s.a.w., para sahabat dan seluruh pengikut Beliau s.a.w. sampai hari Kiamat.

Jumhur ulama menyatakan bahwa bacaan dalam shalat ada yang merupakan rukun yaitu takbiratul ihram dan membaca surat al-Fatihah yang apabila ditinggalkan -baik sengaja maupun tidak- maka shalatnya batal; ada yang berupa wajib seperti membaca tasyahhud dan shalawat yang apabila sengaja ditinggalkan maka shalatnya batal, namun jika tidak sengaja tidak batal tetapi disunnahkan melakukan sujud sahwi; dan ada pula yang berupa sunnah seperti membaca doa iftitah, membaca surat setelah al-fatihah, yang jika ditinggalkan tidak mempengaruhi keabsahan shalat.

Para ulama -bukan hanya jumhur atau kebanyakan mereka- sepakat bahwa yang dimaksud dengan membaca adalah melafalkan huruf-huruf dengan memberikan hak masing-masing huruf -dalam hal ini huruf hijaiyah- dengan semestinya. Bahkan sebagian mereka berpendapat, harus sampai dirinya dapat mendengar bacaannya sendiri, kecuali ada suara bising dari luar.

Imam Malik pernah ditanya mengenai seseorang yang membaca al-Qur`an di dalam shalat, namun tidak ada yang dapat mendengarnya termasuk dirinya sendiri. Dia tidak menggerakkan lisannya. Imam Malik menjawab, “Itu bukan membaca. Membaca itu menggerakkan lisan.”

Al-Kasani -seorang ahli fiqh madzhab Hanafi- menyatakan, “Membaca itu harus dengan menggerakkan lisan melafalkan huruf. Jika seseorang yang mengerjakan shalat mampu melakukan hal itu namun tidak melakukannya, maka shalatnya tidak benar.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin juga pernah ditanya mengenai wajibnya menggerakkan lisan saat membaca bacaan-bacaan shalat. Beliau menjawab, “Membaca itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca (takbiratul ihram dan al-Fatihah) hanya dalam hati, maka shalatnya tidak sah. Begitu pun dengan semua dzikir. (Agar sah dan bernilai pahala) harus dilafalkan dengan lisan dan tidak cukup hanya dalam hati. Harus ada gerakan lisan dan bibir. Itulah yang disebut bacaan.

Dus, mari kita ingatkan saudara-saudara kita yang umumnya mereka belum tahu bahwa membaca bacaan shalat itu harus dengan menggerakkan lisan dan bibir. Wallahu al-muwaffiq.


Bacaan Shalat Tanpa Menggerakkan Lisan (Bibir & Lidah), Bolehkah?

Dalil Pertama
Abu Mu’ammar berkata, “Kami bertanya kepada Khabbab, ‘Apakah Rasulullah membaca (mengucapkan bacaan shalat) dalam shalat Zuhur dan Asar?’ ‘Ya, benar,’ jawabnya. ‘Bagaimana kalian mengetahuinya?’ tanya kami lagi. ‘Dari gerakan jenggotnya,’ jawabnya" (HR Bukhari: 746)
Dalil Kedua
Abu Qatadah meriwayatkan bahwa Nabi membaca Ummul Kitab dan dua surat dalam dua rakaat shalat Zuhur. Sedangkan di dua rakaat berikutnya, beliau membaca Ummul Kitab. Beliau memperdengarkan bacaan ayat kepada kami. (HR Bukhari: 776 dan Muslim: 451)
Dalil Ketiga
Muhammad bin Rusyd berkata, “Menurut pendapat yang benar, bacaan seseorang di dalam hati tanpa gerakan mulut bukanlah bacaan. Karena, bacaan adalah ucapan dengan mulut. Hukuman pun akan dikenakan bila telah diucapkan di mulut. Dalilnya adalah firman Allah: ...Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya...” (Al-Baqarah: 286) Serta sabda Nabi:Allah memaafkan umatnya dari apa yang terlintas dalam hatinya selama tidak diucapkan maupun dikerjakan. (HR Muslim)"
Manusia juga tidak akan dihukum karena bacaan atau kebaikan yang dibisikkan di dalam hati, sebagaimana mereka dihukumi karena bacaan yang digerakkan oleh mulut atau perbuatan baik. (Al-Qawlu Al-Mubiin fî Akhthaa’i Al-Mushalliin: 98)

Jadi, meskipun tujuannya ingin meraih rasa khusyu yang sempurna, bacaan shalat tidak semestinya dibaca di dalam hati saja. Namun lisan atau bibir juga harus digerakkan karena demikianlah Rasulullah SAW mengajarkannya. Jika tidak menggerakkan bibir karena ingin mencapai rasa khusyu aja tidak dibenarkan apalagi dilakukan karena ada rasa malas. Wallahu ‘alam bis shawab!

Referensi Lainnya...
  • Allah Ta’ala berfirman, “… karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu dalam shalat) dari al-Qur’an.” (QS al-Muzzammil: 20)
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca al-Fatihah.” (HR Bukhari, Muslim & Baihaqi)
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengajari seseorang shalat, “Apabila kamu melaksanakan shalat, maka bacalah takbir, lalu bacalah apa yang mudah menurut kamu dari ayat Al-Qur’an…” (HR Abu Daud dan Al-Baihaqy dari jalannya, hadits hasan
  • Firman Allah Ta’ala, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.” (QS al-Qiyamah: 16)
  • Para ulama yang melarang orang junub membaca ayat al-Qur’an, memperbolehkannya melintaskan bacaan ayat di dalam hati. Sebab dengan sekedar melintaskan bacaan ayat di dalam hati tidak digolongkan membaca. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang sedang junub, haidh dan nifas boleh melintaskan bacaan ayat al-Qur’an di dalam hati tanpa melafadzkannya. Begitu juga dia diperbolehkan melihat mushaf sambil membacanya dalam hati.” (al-Adzkaar hal 10) 
  • Muhammad ibn Rusyd berkata, “Adapun seseorang yang membaca dalam hati, tanpa menggerakan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca. Karena yang disebut dengan membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut. Dengan suara hati inilah perbuatan manusia tidak dianggap hukumnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dilakukannya.” (QS al-Baqarah: 286)"
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah mengampuni dari umatku tehadap apa yang masih terjadi di dalam jiwa (hati) mereka.” (Hadits shahih. Lihat Irwaa’ul Ghalil (VII/139) nomor 2062) 
  • Mengenai keras bacaan seseorang dalam shalatnya, Imam asy-Syafi’i berkata di dalam kitab al-Umm, “Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada di sampingnya. Tidak patut dia menambah volume suara lebih dari ukuran itu.” Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa orang yang bisu tidak sejak lahir – karena mengalami kecelakaan di masa perkembangan – wajib menggerakan mulutnya ketika membaca lafadz takbir, ayat-ayat al-Qur’an, doa tasyahud dan lain sebagainya. Karena dengan berbuat demikian dia telah dianggap melafadzkan dan menggerakan mulut. Sebab perbuatan yang tidak mampu dikerjakan akan dimaafkan, akan tetapi selagi masih mampu diperbuat maka harus dilakukan. (Lihat Fataawaa al-Ramli (I/140) dan Hasyiyah Qulyubiy (I/143)) 
  • Mayoritas ulama lebih memilih untuk mensyaratkan bacaan minimal bisa didengar oleh diri pembaca sendiri. Sedangkan menurut ulama madzhab Maliki cukup menggerakan mulut saja ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an. Namun lebih baik jika sampai bisa didengar oleh dirinya sendiri sebagai upaya menghindar dari perselisihan pendapat. (Lihat ad-Diin al-Khaalish (II/143))
Rujukan:
  • Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, Koreksi Total Ritual Shalat, Pustaka Azzam 1993.
  • Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, Media Hidayah 2000.


Tidak Cukup dalam Hati!
Terus Basahi Lisan dengan Dzikir pada Allah!

Janganlah sampai lisan kita lalai dari dzikir pada Allah. Basahnya lisan dengan dzikir yang membuat hati ini hidup. Dzikir yang membuat kita semangat mengurangi kehidupan. Dzikir kepada Allah yang membuat kita terangkat dari kesulitan.

Lisan ini diperintahkan untuk berdzikir setiap saat...
Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,
جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab Beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab Beliau. (HR Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari dzikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berdzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524). Dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang pada lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak.

Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al Hambali setelah membawakan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

[dari berbagai sumber]

Puasa-puasa Sunnah dalam Setahun

Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan sebagian ibadah sebagai perkara yang wajib yang tidak boleh dikurangi & ditinggalkan. Sebagian lainnya adalah nafilah/sunnah, sebagai penyempurna dari yang wajib & penambah kedekatan dengan Allah subhanahu wa ta'ala.

Puasa merupakan bagian dari ibadah-ibadah tersebut. Ibadah puasa ada yang wajib & ada pula yang sunnah. Berikut puasa-puasa sunnah dalam setahun:

1. Puasa 6 hari di bulan Syawal
Dari Abu Ayyub Al-Anshory bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
Bagaimana jika seseorang masih mempunyai hutang puasa Ramadhan, mana yang harus didahulukan? Dalam hal ini ada 2 pendapat:
  • Yang afdhal adalah mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu dengan alasan: (1) Perkara yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah; (2) Di dalam hadits di atas sangat jelas bahwa untuk mendapatkan pahala puasa sepanjang masa dapat diperoleh jika telah berpuasa sebulan penuh.
  • Boleh mendahulukan puasa sunnah 6 hari syawal, kemudian setelah itu mengqadha puasa Ramadhan. Hal ini berdasarkan dalil QS 2:185, yang pada ayat tersebut Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan secara umum “...pada hari-hari yang lain” Maka dalam perkara ini terdapat keleluasaan.
2. Puasa Arafah (puasa pada hari Arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa pada hari Arofah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu & setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
3. Puasa pada hari Asyura’ (10 Muharram) & sehari sebelumnya
Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa 'Asyuro (10 Muharram) dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu. (HR Bukhari & Muslim)

Dari Abu Qotadah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa pada hari ‘Asyuro’, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (HR Muslim)
4. Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, & tidaklah saya melihat beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR Bukhari)
5. Puasa Hari Senin & Kamis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal-amal ditampakkan pada hari senin & kamis, maka aku suka jika ditampakkan amalku & aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, riwayat An-Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda: “Ia adalah hari ketika aku dilahirkan & hari ketika aku diutus (atau diturunkan (wahyu) kepadaku ).” (HR Muslim)
6. Puasa 3 hari setiap bulan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Kekasihku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, & shalat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari Muslim)
Lebih dianjurkan untuk berpuasa pada hari baidh yakni tanggal 13, 14 & 15 bulan Islam (Qomariyah). Berdasarkan perkataan salah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada tiga hari ‘baidh’: tanggal 13, 14 & 15.” (Hadits Hasan, dikeluarkan oleh An-nasa’i & yang lainnya)
7. Berpuasa sehari & berbuka sehari (Puasa Dawud ‘alaihis salam)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Dawud, & shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Dawud, adalah beliau biasa tidur separuh malam, & bangun pada sepertiganya, & tidur pada seperenamnya, adalah beliau berbuka sehari & berpuasa sehari.” (Muttafaqun ‘alaihi)


Beberapa hal yang terkait dengan Puasa Sunnah
  • Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.
  • Seseorang yang berpuasa sunnah diperbolehkan membatalkan puasanya jika ia menghendaki, & tidak ada qodho atasnya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari datang kepadaku kemudian berkata: “Apakah engkau memiliki sesuatu (dari makanan)?”, kemudian kami berkata: “tidak”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau begitu saya berpuasa”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada hari yang lain kemudian kami katakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dihadiahi haisun (kurma yang dicampur minyak & susu yang dihaluskan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawalah kemari, sesungguhnya aku tadi berpuasa”, kemudian beliau memakannya (HR Muslim)
  • Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya menyaksikannya kecuali dengan seizinnya.” (HR Bukhari Muslim)

Sebuah Riset...

14.1.07

Nasihat Lukman kepada Anaknya dalam Al Quran

...
  1. ... "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yg tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Luqman: 12)
  2. ... "Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah (syirik) adalah benar-benar kezaliman yang besar," (QS Luqman: 13)
  3. ... (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman: 14)
  4. ... dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman: 15)
  5. Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membawanya) sesungguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui." (QS Luqman: 16)
  6. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Allah)." (QS Luqman: 17)
  7. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.“ (QS Lukman: 18)
  8. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai.” (QS Luqman: 19)
Itulah nasehat-nasehat Lukman Hakim dalam Al-Quran yang merupakan motifasi bagi kita untuk diikuti dan diamalkan sebab semua nasehat Lukman Hakim tersebut merupakan bagian iman yang esensial dan termasuk sifat-sifat yang agung oleh karena itu sepatuhnya bagi kita untuk menjadikan nasehat-nasehat tersebut sebagai bahan renungan bagi kita kemudian kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Nasihat-nasihat Lukman Hakim lainnya…

Hadis riwayat Abu Hurairah r.a.: Bahwa seorang badui datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku lakukan, aku akan masuk surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat fardu, membayar zakat dan puasa Ramadhan.' Orang itu berkata: 'Demi Zat yang menguasai diriku, aku tidak akan menambah sedikit pun dan tidak akan menguranginya.' Ketika orang itu pergi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barang siapa yang senang melihat seorang ahli surga, maka lihatlah orang ini.'" (HR Muslim)


►Wajib Baca: